Pentingnya Ilmu Menurut Imam Syafi'i
Dalam islam, terkenal ada 4 imam besar yang dijadikan panutan
dalam berislam, tanpa keempat imam ini mustahil bagi kita akan mengenal islam
dengan rinci, mustahil akan mengenal nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam
dan bahkan musahil bagi kita pula untuk mengetahui akan adanya Allah, Tuhan
semesta alam, raja dari segala raja yang kerajaannya tersebar luas mencakup apa
yang ada di langit dan di bumi.
Empat imam tersebut adalah imam Hanafi, imam Malik, imam Syafi’i dan imam
Hanbali. Maka, tidak ada salahnya jika kita selalu berdo’a
semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang pilihan di surgaNya Allah ‘azza wa
jalla, termasuk diumpulkan bersama nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
sallam. Terlepas dari itu, saya ingat akan adanya satu kisah, di mana waktu itu
ada seorang pemuda yang ditanya oleh rasulullah. Yang tidak kurang,
percakapannya seperti ini, “wahai fulan, apa yang engkau inginkan?” tanya
rasulullah, “saya ingin masuk surga bersamamu yaa rasul” jawab si pemuda tadi,
rasulullah kemudian menjawabnya “lekas, bantulah aku untuk mewujudkan
keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” Oleh karena itu, perbanyaklah rasa
syukur dan shalat kita kehadirat Allah subhanahulla ta’ala, sebab atas hidayah
Allah kita diberikan nikmat islam yang dipatri di dalam hati dan sanubari kita
hingga Insya Allah akan mendarah daging dalam jiwa kita seutuhnya, seperti yang
difirmankan Allah dalam al-Qur’an, surat kedua ayat 208. Di mana tidak semua
insan di muka bumi ini diberikan hidayah tersebut.
Dalam buku, yang berjudul ‘Imam Syafi’i’ yang telah saya
rangkum, menjelaskan bahwa imam besar umat muslim itu berkata “ilmu bak buruan
dan catatan bak pengikatnya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Sungguh
bodoh jika kamu berhasil memburu rusa namun kau biarkan ia tak terikat
ditengah-tengah makhluk lain.” Imam Syafi’i juga menyebutkan bahwa “nilai
manusia terletak pada ilmunya, bukan pada pakaian atau penampilannya.” Yang
mana kalimat itu lalu dilanjutkan dengan “aku mengenakan pakaian yang jika
semuanya kujual niscaya menghasilkan uang yang banyak. Dalam pakaian itu ada
satu nafas jika dibandingkan dengan nafas-nafas orang yang berpenyakit
paru-paru maka ia lebih besar. Merusak sarung pedang tak akan merusak
ketajamannya, meski pedang itu patah sepanjang sarungnya.”
Mengenai keutamaan ilmu, imam Syafi’i berkata “belajarlah,
seseorang tidak dilahirkan sebagai orang yang alim, pemilik ilmu tidak seperti
orang bodoh. Pemimpin suatu kaum yang tidak memiliki ilmu terlihat kecil jika
dikelilingi pasukannya, apabila jika orang kecil yang berada ditengah-tengah
suatu kaum dan ia nya berilmu, maka ia terlihat besar ditengah masyarakatnya.”
Jika kita telaah lebih lanjut tentang apa yang dikatakan oleh imam Syaifi’i
kemudian kita komparasikan dengan apa yang terjadi pada era modern saat ini, di
mana di Indonesia terdapat banyak anak bangsa yang berprestasi hingga tingkat
dunia, merajai segala bentuk olimpiade yang diselenggarakan bahkan anak-anak
Indonesia juga sudah bisa membuat riset atau penemuan yang mencengangkan dunia.
Akan tetapi, yang kurang dari Indonesia bukan orang-orang berilmu. Setiap tahun
terdapat ribuan mahasiswa strata 1, mahasiswa tingkat master, mahasiswa tingkat
doktoral dan bahkan profesor dalam bidangnya masing-masing yang dilantik oleh
perguruan tinggi di Indonesia, atau bahkan putra-putri terbaik bangsa yang memperoleh
gelar pendidikan di luar negeri. Melaikan, yang kurang dari Indonesia adalah
orang-orang yang beriman, ya beriman. Beriman pada Allah, beriman pada
malaikat, beriman pada al-Qur’an, beriman pada rasul, beriman pada hari kiamat
dan beriman pada qodho’ dan qodar.
Jika kata iman sudah benar-benar diucapkan, maka mari
masukkan ke dalam hati dan jiwa kita, jika sudah melekat bersama tubuh kita,
maka iringilah setiap detik yang kita lalui dengan mengerjakan amal saleh.
Niscaya, jika kita melaukukan itu semua maka keberkahan akan turun di bumi
Indonesia. Dalam imajinasi saya berfikir, “kenapa ribuan atau bahkan ratusan
ribu akademisi yang dimiliki Indonesia belum bisa berupaya optimal dalam
membangun bangsa yang berdaya saing dan menjadikan Indonesia sebagai negara
yang adikuasa? Siapa yang salah, pemerintah atau setiap elemen masyarakat? Atau
kedua dari kita?” Jawaban yang saat ini sangat bisa memuaskan saya pribadi
adalah karena kurangnya iman dalam setiap diri individu. Oleh karena itu, mungkin
Indonesia perlu meniru kurikulum pendidikan islam di masa lampau, tepanya di
masa imam Syafi’i hidup atau bahkan sebelum zaman imam Syafi’i yakni sejak
zaman nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mana mereka akan belajar
tentang adab terlebih dahulu sebelum belajar tentang ilmu, kemudian memperkokoh
iman, mempelajari al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Jadi dengan adab, iman yang
kuat dan dengan ditambah pondasi dari al-Qur’an yang dipelajari akan membimbing
siswa-siswi untuk terus melakukan apapun dengan tujuan yang tidak lain adalah lillahi
ta’ala (hanya untuk Allah). Di sisi lain, sekarang banyak yang menganggap
Finlandia merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dan Korea
Selatan adalah yang kedua. Kemudian lagi saya berkata dalam khayalan “kan
Finlandia negara dengan penduduk minoritas muslim yang mana notabennya tidak
ada penerapan nila-niai islam di dalamnya, apakah cocok jika sistem pendidikannya
juga ditiru oleh Indonesia yang mayoritas muslim?” Jadi apa salahya dengan kita
jika menggunakan sistem pendidikan islam di masa lampau. Meskipun saya tahu
akan ada yang kontra dengan hal ini.
Masih di dalam buku yang sama, imam Syafi’i mengatakan “jiwa
yang menghendaki kemuliaan tidak akan pernah rela dengan kehinaan dan tidak
akan puas dengan yang sedikit.” Maka, tidak baik bagi kita, hamba yang hina
ini, untuk cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari. Entah ilmu
alam, ilmu sosial, ilmu sejarah, ilmu politik bahkan terlebih lagi ilmu agama.
Kuasailah sesuatu sampai menjadi piawai dan tidak tertandingi dalam hal
tersebut. Jika perlu mengembaralah seperti Ibnu Batutah, satu-satunya
pengembara yang telah menjelajahi dunia lebih jauh dari Marcopollo, untuk
mempelajari hal-hal baru yang belum dijumpai dalam kehidupan.
Comments
Post a Comment